Genesis Teater Aceh; Geulanggang Labu (Selesai)

Oleh: Fozan Santa

Babak Dua; Laku Aktor.
“Acting is believing” kata sebuah buku klasik karya Charles McGaw dan Larry Clark. Artinya, penampilan seluruh komponen drama dari pemain, dekorasi-setting, pencahayaan lampu, musik benar-benar dituntut prima sehingga semua itu bisa meyakinkan penonton pada tema, naskah atau “dunia” yang sedang dipanggungkan. Teater menjadi ruang dimana para aktor teperangkap dalam satu alur waktu dan konteks tertentu. Karena semua itu pula, jika sastra bertumpu pada kata, musik pada nada, lukis pada bentuk dan warna, maka drama atau film sering disebut seni (menghadirkan) peristiwa secara meyakinkan. Tak heran jika kemudian drama sering dianggap induk segala seni sebab semua jenis kesenian bisa berlangsung serentak dalam jalinan cerita dan waktu yang padat.

Drama, sandiwara, teater, toneel, adalah juga cermin sebuah miniatur dunia (mikrokosmis) dari sebuah dunia senyatanya tempat kita hidup dan terlibat (makro-kosmis). Ia memantul lebih dalam dan intens setiap gejala dalam kemelut hidup manusia di suatu tempat, pada suatu ketika. Drama menyatakan ruang dan waktu, sehingga kita pun bisa menyaksikan langsung peristiwa pahit getir susah senang sedih gembira yang diwakilkan pada aktor atau pemain atau tokoh dengan peran masing-masing-protagonis maupun antagonis.

Ya, aktor menjadi utama dalam proses presentasi teater modern. Aktor pula yang bertanggungjawab memanusiakan kompleksitas ide, melarutkan dalam pikiran, rasa dan ruang semua gagasan lakon. Tanpa aktor, sutradara mati. Teater (dibawah kuasa) sutradara tak lebih sebagai laku dramatika para pemain tanpa roh. Kekuasaan tafsir idiomatik dan bentuk pertunjukan mesti berangkat dari gerak awal kolektif para pendukung lakon. Bahkan manajer panggung, kostum sampai penata properti harus tahu apa yang sungguh hendak dipresentasikan dalam sebuah sandiwara modern. Segenap komponen artistik wajib sumbang pikir, urun rembuk menuju capaian peristiwa teater bersama. Sementara sutradara itu; 30% merasa, 30% melihat, 30% mendengar dan 10% berteriak action! dan cut! Tranformasi teater rakyat ke wilayah modernitas telah mensyaratkan distribusi gagasan dan cerita merata ke semua komponen pendukung dramatik, jauh waktu sebelum pertunjukan digelar.

Babak Tiga; ‘Perut’ Masyarakat.
Berangkat dari kenyataan persoalan yang terjadi di masyarakat, drama kemudian terbentuk menjadi sebuah mesin abtraksi, proses-urai atau katakan semacam ruang sulih untuk memisahkan saripati dan ampas, gizi dan kotoran. Didalamnya, hasil dari pergulatan interaktif antara pelaku drama dengan soal sehari-hari ditambah permenungan yang intens terhadap nilai-nilai kemanusiaan yang tinggi, panggung drama seringkali melakukan subversif, corak beda, produk-tanding yang menolak segala kemapanan sistem budaya hidup kita yang “tak terpikirkan” atau “tak boleh dipikirkan” -drama sering membentur diri pada tabu-tabu sosial. Bukan tabu yang berkisar masalah aurat atau seksualitas, tapi tradisi-tradisi sosial yang sudah terlanjur baku bahkan menjadi mitos belaka di benak kita.

Dalam pementasan drama, dunia subversi tadi seperti menjadi kias, laksana perut dan usus besar dalam tubuh, tempat secara otomatik terpilah mana gizi mana kotoran. Kadang ia diberi tepuk tangan, kerap justru cemooh yang tiba. Tapi drama seperti kesenian lainnya tak hendak memberi provokasi anarkis, seni cuma memberi kesaksiaan, mengajak cerdas, mengantar renungan bersama atas apa yang mungkin terlupakan dalam panggung nyata kehidupan kita. Hikayat-hikayat Geulanggang Labu secara tradisioal selalu menawarkan komedi satire yang kadang mengurai airmata.

Babak Empat; Gedung Gempa.
Sandiwara Geulanggang Labu mampu bermain sampai dini hari di atas mobile-stage yang siap melaju di jalan raya Aceh ke kampung berikut setelah biasanya sebulan terpacak di satu kampung. Teater rakyat cenderung bermuka-muka dengan publik penonton yang terlibat agar terus segar dan matang. Sering pula naskah atau gagasan dramatik spontan terbit dari mulut penonton iseng yang bersahut gaduh. Perayaan tafsir dan katarsis nilai mutlak terjadi di sebuah padang terbuka diantara bising lalang kendaraan. Persis kemeriahan saat grup Sinar Desa Geulanggang Labu membuka lapak panggung di Lapangan Mobrig/Brimob Jeulingke Banda Aceh dalam tahun 1965 setelah sukses pentas di Rantau Panyang Aceh Timur bersama grup Seudati Syeh Lah Geunta. Peristiwa ini tercatat sebagai prestasi pertunjukan sandiwara tradisional terlama sejauh riwayat teater keliling Aceh.

Jadi untuk apa lagi mengharap sejenis gedung tertutup pertunjukan seni yang cukup mempuni standart akustik dan ventilasi udara, untuk tidak dikata mewah dan berarsitektur postmodernisma, di kampung Aceh? Berhentilah mimpi akan tempat layaknya Gedung Opera Sydney disisi kawasan pelabuhan Sydney, New South Wales, Australia, dekat jembatan Sydney Harbour Bridge disana. Selain tujuan wisata, gedung yang dikelola Opera House Trust juga menjadi markas Opera Australia, Sydney Theatre Company, dan Sydney Symphony Orchestra serta menjadi ruang segala pertunjukkan teater, balet, dan macam seni lainnya. Atau Esplanade di Singapura atau panggung Broadway di Amerika. Jauh sekali itu. Sekalipun tarif 5-10 M yang dipatut Anjungan Tunai Mesin Rekonstruksi dan Rehabilitasi (ATM-RR) untuk Gedung Kesenian Aceh pascatsunami jelas takkan jua sampai sebatas wujud minimal gedung-gedung diatas, jika rencana dan minat awal cuma ratusan juta rupiah. Seperti kotak odol yang menera angka netto 100 ml tapi cuma berisi 90 ml oleh jatah angin dalam botol.

Berat sungguh menggarap sebuah ruang dengan tata akustik sempurna, meski tak muluk juga yang dituntut para pekerja seni Aceh. Sebab akustik yang baik butuh, antara lain transmisi suara yang harus sampai langsung ke telinga penonton. Suara diatur agar terkesan sepadan dengan atmosfir sebuah pertunjukkan. Juga perihal revibration time (waktu gema), diffuse sound field (medan penyebaran suara), kejernihan suara, dan uniformity of sound pressure level (keseragaman tingkat tekanan udara pada suara).

Perhitungan cermat bahwa kebutuhan waktu gema antara 1.3-2 detik, dalam kasus ini ditetapkan nilai 1.6 detik untuk ruang konser dan 1.1 detik untuk bioskop. Sedangkan untuk uniformity of sound pressure level yang dibutuhkan sebuah ruangan pertunjukan standart kurang lebih 6 DB (desibell) untuk seluruh arena penonton. Itu angka ideal bagi ruang konser dan sinema. Di angka ini akan timbul suasana lebih hening dibanding sebuah masjid saat sedang kosong. Setiap musisi atau dramawan tahu betul betapa pentingnya perlakuan akustik, apatah lagi difungsikan sebagai ruangan audio atau video. Tanpa penataan akustik yang benar dan tepat, tak tercipta keseimbangan frekuensi suara dari jenis frekuensi suara yang umumnya terdiri dari high, mid dan bass. Demikian petuah Prof. Dr. Ir. Soegijanto, ahli akustik dari Departemen Fisika Bangunan Institut Teknologi Bandung (kabarindonesia, 2008).

Belum lagi bicara ihwal yang lebih sederhana namun tak menarik semisal merancang ruang lobby lapang yang berkait dengan ruang projector pemutar film, layar proyeksi film, system tata lampu, ruang ganti pemain, sound system, pendingin ruang, listrik, sistem keamanan hingga pelataran parkir yang asri. Berkemaslah segera untuk bangun dari mimpi panjang, songsong dan mari nikmati sisa kenyataan yang ada. Lupakan gedung-gedung kesenian yang baik dan benar serta dikelola manusia-manusia penuh khidmat agung pada kesenian sebagai jawaban untuk menyanggah pernyataan bahwa teater, juga kesenian umumnya adalah bagian yang sangat tidak penting dari kampung Aceh.

Kita merindu-dendam pada sandiwara rakyat Geulanggang Labu yang bisa kemana pentas selalu dirubung banyak orang, oleh komedi atau tragedi dalam lakonnya. Ditambah polesan seni drama modern yang canggih, ketat dan kontekstual, maka sandiwara khas Aceh akan terus bersemi di sepanjang jalan raya lingkar (ring road) Banda Aceh-Kuala Simpang-Singkil-Lhok Nga-Banda Aceh. Zaman sudah berganti, tak penting benar gedung kesenian dalam musim gempa-gempa susulan. Cukup ia sebagai monumen kebudayaan dramatik alakadar setelah ombak raya surut. Mungkin dalam kontek ini judul tulisan diatas boleh diberi makna. Kembali saja ke Ulee Kareng. Dang-dang na laen.

No Response to "Genesis Teater Aceh; Geulanggang Labu (Selesai)"

Posting Komentar

Silakan meninggalkan komentar anda. Mohon tidak meninggalkan pesan yang mengandung unsur SARA dan pornografi.Trimakasih

Admin KoranTeater

PicPanda.com
powered by Blogger | WordPress by Newwpthemes | Converted by BloggerTheme