Genesis Teater Aceh; Geulanggang Labu (Pertama)

Oleh: Fozan Santa

Setelah berpusing-kelok sepelosok Aceh yang damai dan ramai, tak sekilas saya berjumpa itu museum drama di Aceh. Barangkali lupa dimuat dan perlu diperjelas dalam revisi ‘cetak jingga’ BRR di masa depan jika memang lembaga ulak uang itu masih berguna disini, khusus untuk membangun museum dan monumen. Jika sudah begitu, Sipat tak dua pat lut! Untuk mengenang peristiwa sejarah sekaligus menukil nama si pembuat monumen dengan dawat emas di atas prasasti marmar hitam.

Saya pun tak tahu apa yang tepat dituliskan sebagai judul tulisan ini. Kian parah paradok yang muncrat untuk menemukan kait antara sejarah drama dan proses bangun dan rehab kembali kampung-kampung di Aceh setelah ombak hitam pecah menderu dari pantai sampai jauh ke tengah kota. Dua kenyataan yang bertolak punggung, bersikut jalan; yang pertama adalah proses berjangka tak singkat menemukan inti terdalam kesadaran pemanusiaan, yang kedua, secara awam lebih dipahamkan sebagai usaha material yang sering dituntut segera selesai agar kehidupan kembali normal. Ya, walau kini seperti tak jua usai derita sosial, pun setelah rekonstruksi Aceh lamat-lamat selesai.

Kesulitan mendesak juga saat mana tak ada batas, waktu dan tempat pasti untuk membentang jauh sejarah drama dalam hubungan dengan kondisi sosial masyarakat Aceh. Sebuah buku tebal tentu akan menjawab semua itu tapi tak mungkin menuliskannya dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Kecuali dikejar tenggat proyek pengadaan buku. Namun jangan gusar, buku-buku sejarah perkembangan drama di Nusantara sampai kini sudah banyak beredar di pasaran, tinggal kesediaan untuk meluang waktu mencari, membaca dan memahami teater sebagai gejala kebudayaan.

Tak ada uraian panjang dalam tulisan ini dan juga timbul semacam sangsi; apakah semua itu masih sungguh teramat penting buat kita disini. Apalagi saya kurang suka, meski perlu juga, menghafal tahun dan tempat terjadinya sebuah peristiwa yang menjadikan pelajaran atau jurusan-jurusan sejarah sejak Sekolah Dasar hingga Perguruan Tinggi menjadi tak menarik, terasing dan sepi peminat. Yang penting kesadaran sejarah yang meruang, masa silam yang terus hidup dalam masa sekarang, yang tak bisa dilupa. Kesadaran dramatik yang menyentak setiap periode sejarah. Mari tinjau babak-babak kecil dalam struktur dramatika Aceh.

Babak Satu; Sepatah Kronik
Alur diakronik sejarah drama dari kurun Yunani kuno menyumbang arkeologi pengetian theatron sekaligus trageos, dimana kata dasar teater dan tragedi sudah berakar kuat. Langgam pertumbuhan sampai masa kekaisaran Romawi meletupkan atraksi Gladiator melawan binatang buas yang memacu urat otak. Arena Cosseleum sampai kini masih tegar di kota Roma Italia sebagai saksi keras sebuah dramatika teater. Perkembangan pesat dan terbukanya ruang ekspresi kesenian masa-masa penaklukan Islam ke daratan Eropa sempat memperkaya khazanah drama melalui teks-teks monolog yang disadur dari hikayat 1001 malam.

Abad pertengahan, kurun klasik sampai periode pencerahan menjadi penanda lahirnya drama modern yang memusatkan perhatian pada eksistensi manusia sebagai makhluk sosial, pencipta kebudayaan, juga pusat tenaga kritik sosial sebagai pengubah opini masyarakat. Drama mulai bicara tentang soal-soal politik, ekonomi, kekuasaan, karakter manusia, hukum, keluarga dan segala kerawanan yang melingkup masyarakat. William Shakspeare semakin popoler sebagai wakil utama zaman Victorian dengan kekuatan bahasa dan puitika yang kuat. Ia mulai memakai kaum perempuan, meski penuh rahasia, untuk bermain dalam pemanggungan naskahnya yang pada masa itu masih cukup tabu dan karena itu sering dimainkan oleh para lelaki. Ia dobrak tabu, sampai akhirnya Ratu Inggris mengizinkan dan aturan dirombak. Aktor dan aktris menemukan kesejatiaan rupa, suara dan bentuk.

Kolonialisma Barat dan Asia Timur yang menghampir di pantai-pantai kawasan Sumatera pada abad 16 membawa serta kebudayaan drama yang jauh sudah berkembang. Sandiwara atau toneel mulai diperkenalkan dengan mementaskan mitologi, cerita rakyat, folklore. Di Aceh, dunia teater monolog pertama muncul lewat tradisi poh haba, Dangderia, atau hikayat-hikayat yang dilantun sepanjang jalan perang bergolak di akhir abad 19. Pada tahun 20-an kelompok drama tradisi Opera Stamboel pernah singgah di Idi pesisir timur Aceh.

Sekitar paruh akhir tahun 1950-an, muncul kelompok sandiwara rakyat pertama di Aceh yang bermarkas di kampung Geulanggang Labu, sekitar 15 Km dari pusat kota kecamatan Peusangan, Matang Glumpang Dua, Aceh Utara (kini wilayah Kabupaten Bireuen) dengan palang nama Sinar Desa. Awal kelahirannya diproklamirkan seorang pemuda Aceh mantan tentara Heiho dalam dinas militer Jepang untuk urusan toneel. Dia, Sersan Ahmad Harun.

Dengan peralatan sederhana Ahmad dan grupnya mulai keliling kampung ke kampung. Perlengkapan panggung, dekorasi, musik hingga penerangan masih pinjaman sukarela dari anggota grup. Ada yang mengikhlas sprei untuk layar, kosmetika istri untuk tata rias, dan petromak rumah untuk tata lampu, ditambah perkakas rumah tangga untuk properti panggung. Tak ada naskah sistematik, hanya improvisasi di lapangan yang begitu kentara. Semua cerita diolah, dibentuk dan diusung dalam sekejap saat mana permainan drama masih berlangsung. Pergantian babak, cerita, tokoh, adegan, secara langsung diarahkan Ahmad dari balik layar hingga pentas tuntas. Sebuah total-teater dari zaman awal.

Ahmad sendiri mengambil peran penting dalam setiap pertunjukan sebagai Tjoet Maroehoi -seorang antagonis yang kerap memprovokasi, membuat kejutan dan mengadu-domba para tokoh dalam lakon. Begitu kompleks tugasnya; pengarang naskah, sutradara sekaligus aktor. Watak ini menjadi ciri khas sandiwara Aceh sampai perkembangan mutakhir. Tokoh ini mesti selalu ada, selalu ditunggu penonton, membuat kocak pertunjukan.

Cerita-cerita banyak berasal dari legenda rakyat. Beberapa yang pernah dipentaskan antara lain cre karna ma, aneuk tiri, korban fitnah menjadi hit dalam kenangan para penontonnya. Selepas itu, ketua kelompok sandiwara Geulanggang Labu berpindah tangan ke Ahmad Benson yang kemudian melanjutkan aktifitas keliling hingga antar kabupaten se-Aceh. Kemudian estafeta ketua grup disambung adiknya, Abdullah Benson, hingga masa kemundurannya.

Disamping itu, sandiwara Aceh pun mengalami perkembangan yang ramai dengan lahirnya beberapa kelompok baru yang didirikan para alumnus Geulanggang Labu tapi mendapat sentuhan baru dari grup-grup drama yang sudah tumbuh di Medan saat itu. Bintang Harapan di Krueng Mane, Sinar Jeumpa di Bireuen, Jeumpa Aceh di Kutaraja, Sinar Harapan di Matang Glumpang Dua pernah merajai dunia sandiwara keliling Aceh dan segar dalam ingatan hingga paruh akhir 1990-an. Udin Pelor dan Ismail Kakek; dua alumnus yang sampai kini masih aktif bekarya dan sangat siap menjadi saksi senja sejarah kejayaan sandiwara tradisional Aceh.

Nun di seberang, perkembangan teater modern di Jakarta hingga masa ATNI -Akademi Teater Nasional Indonesia, yang dimotori Usmar Ismail dan Asrul Sani telah memicu munculnya beberapa kelompok drama modern yang memberi pengarus sampai ke Aceh. Ambil misal, Teater Populer, Bengkel Teater, Teater Koma, Studiklub Teater Bandung dan lainnya di era 70-an. Rata-rata kelompok-kelompok tersebut masih bernafas panjang sampai kini dan didukung aktif oleh pekerja teater seperti WS Rendra, Putu Wijaya, Slamet Rahardjo, Amak Baldjun, Nano Riantiarno, Jajang C. Noer serta banyak lagi dari kaum muda yang terus ingin berguna memberi makna pada dunia teater. “Saya akan terus mematangkan jiwa, menjalani hidup damai serta bersilaturahmi dengan orang-orang yang belum terjamah. Oh iya, saya tidak akan pernah meninggalkan teater” kata WS Rendra, 72 tahun, seusai menerima gelar Doktor Honoris Causa Kebudayaan dari UGM Jogjakarta pada 11 Maret 2008 silam.

Beberapa kalangan peminat drama di Aceh sempat pula bersentuhan ide dan bentuk dengan kelompok-kelompok drama modern di Jakarta. Tak pelak, bertumbuhlah komunitas drama di Aceh pada tahun 1980-an seperti Teater Mata, Teater Kuala, Teater Bola, Teater Kriya Artistika, Teater Kosong sampai maraknya komunitas teater kampus dan Sekolah Menengah seperti Teater Nol dan Teater Rongsokan, juga lainnya di beberapa kabupaten pada awal abad 21. Tahap ini, Geulanggang Labu menyusup ke bawah sadar kolektif semesta teater modern Aceh. Menjadi alter-ego dalam nomor-nomor improvisasi kultural. Secara tipikal, bahkan melambung saat menempuh wilayah teknologi digital audio-visual, komedi Eumpang Breuh adalah sistem tanda yang sadar di ranah antropologi budaya massa Aceh.

Dan gempa lalu tsunami pelan surut memorak kampung pada akhir Desember 2004. Kelompok-kelompok drama modern Aceh tersebut mulai berbenah dan bangkit kembali dari kondisi yang cukup parah baik material maupun spirituil seperti Sanggar dan tempat yang remuk hancur serta sekian anggota yang hilang dalam gelombang raya. Meski sesungguhnya tanpa bantuan sesiapa, teater selalu adalah aktor. Dan selama aktor memiliki disiplin tangguh dan liat, seni drama tak pernah lenyap dalam pusaran politik bantuan yang cenderung mematikan imaji-imaji kreatif lagi kritis.

No Response to "Genesis Teater Aceh; Geulanggang Labu (Pertama)"

Posting Komentar

Silakan meninggalkan komentar anda. Mohon tidak meninggalkan pesan yang mengandung unsur SARA dan pornografi.Trimakasih

Admin KoranTeater

PicPanda.com
powered by Blogger | WordPress by Newwpthemes | Converted by BloggerTheme