Monolog “Demokrasi” Tampil Outdoor

Oleh: Fitri Noveri *               

“Hidup Demokrasi!”, “Hidup Demokrasi!”, “Hidup Demokrasi!”, Semua pengunjung yang berada di halaman rumah pasti menyadari kalau teriakan tersebut bukan bersumber dari seorang deklamator, demonstran, atau yel-yel sebuah partai politik yang tengah berkampanye. Pun begitu, penonton tetap merespon teriakan tersebut dengan balik menyahut “hidup demokrasi!”. Seluruh penonton pun terlibat kedalam pementasan sore itu.

Begitulah gaya pemanggungan monolog “Demokrasi” karya Putu Wijaya yang dibawakan oleh Tya Setiawati salahsatu aktris di teater Sakata Padangpanjang. Pentas monolog yang berlansung tanggal 30 Oktober 2010 pada sore hari itu, sengaja disuguhkan diluar ruangan(out door). Terlepas dari gaya pertunjukannya yang masih kentara menggunakan pakem-pakem panggung konvensional, pertunjukan sore yang diliputi mendung itu tetap menjanjikan ranah seni peran.

Bagi Tya perlunya merambah ke luar gedung pertunjukan untuk menciptakan ruang-ruang kreativitas alternativ agar tidak berpusat pada satu titik yang ‘ekslusif’, adalah sesuatu yang harus diperjuangkan,sehingga keterbatasan tidak menjadi halangan berarti, untuk terus berbuat. Karena sesungguhnya bagi penggiat teater pentas dalam gedung pertunjukan bukanlah harga mati.

Monolog “Demokrasi” ini, merupakan pentas kali keduanya Tya Setiawati. Pentas pertamanya tanggal 6 oktober 2010 di Surakarta, pada event Mimbar Teater Indonesia II. Pertunjukan kala itu berlansung dalam sebuah gedung pertunjukan. Sementara dalam penyajiannya kali ini dilakukan di ruangan terbuka(out door). Pementasan sore hari itu mengambil area permainan di halaman rumah yang selama ini menjadi tempat pelatihan rutin Teater Sakata, yang sebelumnya juga dilakukan pentas teater Tiga Perempuan, karya Fia Suswati.

Lakon “Demokrasi” mengisahkan tentang Ketua RT gang Gugus Depan dan warganya yang terkena penggusuran tanah, karena akan digunakan untuk pembangunan jalan. Seluruh warga yang menolak mempercayakan aspirasinya kepada ketua RT untuk menyampaikan ketidaksetujuan atas pencaplokan tanah yang dilakukan oleh sebuah pabrik tekstil. Polemik muncul ketika Direktur pabrik tekstil menyodorkan satu amplop tebal berisi uang. Ketua RT tidak berdaya menghadapi sebuah dilema, antara kepercayaan warga terhadap dirinya dan sogokan uang. yang membelalakan matanya. Setelah diterimanya uang sogokan sebanyak 1 milyar dari Direktur Pabrik Tekstil itu, Ketua RT akhirnya menggunakan istilah demokrasi untuk membodohi warganya, yang tidak mengerti.

Demokrasi pun menjadi distortif. Demokrasi tak ubahnya momok yang selalu berpihak pada uang. Maka, sambutlah demokrasi karena bagi segelintir manusia dia adalah “lahan kesejahteraan”.
Sebuah konflik yang sebenarnya telah usang, tetapi tak pernah lapuk oleh zaman, karena melekat  pada setiap rezim. Dalam penampilannya kali ini, pementasan monolog “Demokrasi” tidak saja di hadiri oleh penggiat teater di Padangpanjang namun juga dari kota Padang dan Payakumbuh.

Fenomena Klise
Demokrasi sesungguhnya adalah menempatkan warga negara sebagai pemegang kedaulatan. Mayoritas rakyat memiliki hak yang sama di depan hukum, di samping adanya jaminan pelindungan terhadap hak-hak minoritas serta adanya pembatasan terhadap kewenangan pemerintahan. Harapan demikian itu seringkali banyak melahirkan kekecewaan, bilamana persoalan ketimpangan sosial masih saja terus berlangsung. Tema-tema yang mencoba mengkritisi berbagai persoalan sosial tersebut seringkali mencerminkan kehidupan ‘rakyat kecil’ di Indonesia yang merindukan keadilan dan ‘kemapanaan’ secara sosial. Memang kisah di atas, sesungguhnya adalah ironi yang tak pernah habis, karena pada masyarakat kecil kondisi sosial-ekonominya selalu berlangsung secara stagnan (tetap dalam kondisi penyakit yang kronis), sementara segelintir masyarakat yang lain semakin menampakan keserakahannya. Keadilan sebagaimana dambaan masyarakat bawah tersebut sebenarnya bisa terwujud jika para pemilik modal melihat sisi kehidupan tidak hanya sebatas keuntungan tetapi juga menimbang nurani kemanusian.

Demokrasi pada akhirnya sah-sah saja kalau kemudian ditafsirkan oleh masyarakat lemah sebagai momok yang justru melahirkan ketimpangan, kesenjangan sosial serta penindasan terhadap hak-hak rakyat kecil. Sebuah tema klise dari naskah inilah yang kemudian coba divisualkan dalam monolog Demokrasi yang dibawakan oleh Tya Setiawati.

Tema yang merupakan fenomena yang sebenarnya klise ini, dihadirkan Tya Setiawati dengan serius. Sayangnya, akting yang dipertunjukan Tya tidak semaksimal seperti sebelumnya. Terlebih jika dibandingkan dengan beberapa pementasan terdahulu, semisal: ketika memainkan tokoh Ibunda (dalam Ibunda, karya Teguh Karya) dimana Tya mampu memukau penonton lewat aksi panggungnya.

Pertunjukan monolog “Demokrasi” karya Putu Wijaya ini dapatlah dikatakan sebagai pengobat rindu karena langkanya pertunjukan monolog di Sumatra Barat. Setidaknya itulah pernyataan dari beberapa peserta sesi diskusi seusai pertunjukan. Padahal untuk memainkan monolog seorang aktor harus memiliki skill keaktoran yang mumpuni. Setidaknya pengalaman keaktorannya menjadi lebih teruji.

Salah seorang praktisi teater, S Metron Madison dengan terang-terangan mengatakan,“Sumatra Barat belum mampu melahirkan aktor-aktor yang mampu menunjukkan eksistensinya. Dan hendaknya komunitas atau kelompok-kelompok teater di Sumatra Barat dapat  mencatatkan atau mendokumentasikan metode pelatihan keaktorannya masing-masing.


              *Mahasiswa Teater ISI Padangpanjang

No Response to "Monolog “Demokrasi” Tampil Outdoor"

Posting Komentar

Silakan meninggalkan komentar anda. Mohon tidak meninggalkan pesan yang mengandung unsur SARA dan pornografi.Trimakasih

Admin KoranTeater

PicPanda.com
powered by Blogger | WordPress by Newwpthemes | Converted by BloggerTheme