Putri Embun dan Pangeran...

Bengkel Mime Theatre melalui pertunjukan ‘Putri Embun dan pangeran Bintang’ mencoba memberikan sebuah tawaran visual yang baru, berbeda, dibandingkan pertunjukan-pertunjukan mereka sebelumnya seperti Suspect, Aku Malas Pulang ke Rumah, Repertoar Tiga Fragmen (Three Little Duck, Rudi Berangkat Sekolah, dan Becakku Hilang Bersama Angin) dan lain-lain. [...]

Putri Embun dan Pangeran

Sebuah Pintu...Ali Sukri

Sebuah nomor tari bertajuk Pintu tengah dilakoni dua penari, Ali Sukri dan Sarah Sulaiman, dalam pementasan tari berjudul Puisi Tubuh II dan Pintu di Teater Salihara, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Rabu malam lalu. Pertunjukkan itu terdiri dari dua bagian. Setelah Pintu, nomor berjudul Puisi Tubuh II tampil menjadi penutup pentas.[...]

Putri Embun dan Pangeran

Teater Imaji Pentaskan "Cabik"...

Cabik mengetengahkan konflik laki-laki dan perempuan, tidak sekedar sebagai suatu individu tapi lebih sebagai dua institusi yang bertanggung jawab terhadap keberlangsungan peradaban. Naskah pemenang sayembara penulisan naskah Taman Budaya Yogyakarta 1994 ini, telah dipentaskan oleh banyak kelompok teater di Indonesia.[...]

Putri Embun dan Pangeran

PANGGUNG PUBLIK SUMATERA MENJAMU PENONTON DIRUANG PUBLIK “ WORLD THEATRE DAY 2012 “

Pertumbuhan teater di Sumatera Barat khususnya dan Indonesia pada umumnya dalama lima tahun terakhir tidak lepas dari sumbangsih kelompok maupun seniman yang berdomisili di Padangpanjang. Kelompok maupun seniman teater ini telah ikut mengharumkan nama perteateran nasional. Sayangnya untuk kota Padangpanjang sendiri keberadaan mereka belum terasa ‘akrab’ di masyarakat. Untuk itulah dalam satu diskusi antara sutradara teater dan seniman bersepakat kerja bersama mengenalkan teater baik secara bentuk, genre, style teater maupun senimannya kehadapan masyarakat (publik) di Padangpanjang.

Pertemuan sesama penggiat teater telah dilakukan di sekretariat Teater Sakata Padangpanjang, Jl. Soekarno - Hatta No. 62 Bukit Surungan, Padangpanjang pada tanggal, 29 Desember 2011 dan 4 Januari 2012 yang dihadiri oleh Komunitas Seni Hitam Putih, Komunitas Seni Kuflet, Teater Plong, Sembilan Ruang, Kelompok Pematang, Katatari, Batahimimetheatre dan Teater Sakata sebagai tuan rumah. Dalam pertemuan tersebut dihasilkan kesepakatan antara lain: setiap kelompok mengirimkan utusannya untuk duduk di kepanitiaan dan memiliki tanggung jawab untuk mensukseskkan kegiatan yang sedang dirancang.

Kegiatan yang dianggap cocok untuk melaksanakan iven ini adalah Hari Peringatan Teater Sedunia (WORLD THEATRE DAY) yang jatuh pada tanggal, 27 Maret 2012, yang kemudian diberi tema “Menjamu Penonton diruang Publik” dengan judul publikasi “Panggung Publik Sumatera”. Lokasi acara yang direncanakan adalah: tambang perkapuran Bukit Tui (Bancalaweh), Stasiun Kereta Api(Silaing) dan Pasar Padangpanjang.

Kemudian pertunjukan yang akan ditampilkan adalah: Monolog, Mime, Teater Modern, Teater Tradisi, dan Teater Kontemporer. Selanjutnya acara dilanjutkan oleh sarasehan teater dengan mengundang pembicara: Halim HD (pengamat teater nasional) Solo dan Yusrizal KW (wartawan budaya padang).

Harapannya dari kegiatan ini masyarakat Padangpanjang dapat mengenal lebih jauh pentas seni teater baik secara bentuk maupun senimannya sebagai ruang silaturahmi sehingga perkembangan teater di kota Padangpanjang menjadi basis kekuatan teater di Sumatera.



RUN DOWN WORLD THEATRE DAY 2012
PANGGUNG PUBLIK SUMATERA
“Menjamu Penonton di Ruang Publik”
Senin-Selasa/26-27 Maret 2012
Tempat: Pasar Padangpanjang, Gedung. M. Syafei, Stasiun Kereta Api dan Bukit Tui Padangpanjang-Sumatera Barat



SENIN, 26 MARET 2012

Arak-arakan
(Pukul 10.00 wib-10.30 wib, Bukit Surungan-Pasar Padangpanjang)

Pembukaan
(Pukul 10.30 wib-10.40 wib di Pasar Padangpanjang)

Baca Puisi, Happening Art
(Pukul 10.40 wib-12.00 wib di Pasar Padangpanjang)

Teater Tutur dengan judul 'TUPAI JANJANG'. Aktor : Fuji El Ikhsan
(Pukul 14.00 wib-14.30 wib di Pasar padangpanjang)

Monolog dengan judul 'KORUPTOR BUDIMAN' karya NN. Aktor : Andi Jagger
(Pukul 14.30 wib-15.30 wib di Pasar Padangpanjang)

Teater Sakata dengan pertunjukan berjudul 'DONGENG MANDE DARI BUKIT TUI' karya-sutradara Tya Setiawati
(Pukul 16.30 wib-17.30 wib di Bukit Tui Padangpanjang)

Monolog dengan judul 'COMPLICATED' karya Yusril-sutradara Kurniasih Zaitun. Aktor :Edi Satria Mak Itam
(Pukul 16.30 wib-17.30 wib di Pasar Padangpanjang)

Monolog dengan judul 'CERAMAH ILMIAH Dr. ANDA' karya Wisran Hadi-sutradara Deri Shukaik. Aktris : Rakena Anjani Amak
(Pukul 20.00 wib-21.30 wib di Pasar Padangpanjang)

komunitas Sambilan Ruang dengan pertunjukan berjudul "MATAHARI DISEBUAH JALAN KECIL" karya Arifin C Noer-sutradara Fitri Noveri
(Pukul 20.00 wib-21.30 wib di Stasiun Pasar Usang Padangpanjang)

komunitas BATAHI MIME THEATRE dengan pertunjukan berjudul 'BATU' karya-sutradara Muhammad Hibban Mauludi Hasibuan
(Pukul 21.30 wib-22.30 wib di Stasiun Pasar Usang Padangpanjang)




SELASA, 27 MARET 2012

Teater Tutur dengan judul ‘MALIN KUNDANG’. Aktor : Lee Production
(Pukul 10.00 wib-10.30 wib di Pasar padangpanjang)

Baca Puisi, Happening Art
(Pukul 10.30 wib-11.00 wib di Pasar Padangpanjang)

Grup KUCIANG TUO dengan pertunjukan teater rakyat Minangkabau berjudul ‘SI TUPAI JANJANG’, sutradara Edi Satria Mak Itam
(Pukul 11.00 wib-12.00 wib di Pasar Padangpanjang)

komunitas seni HITAM-PUTIH dengan pertunjukan berjudul "ORANG-ORANG BAWAH TANAH" karya Wisran Hadi-sutradara Yusril
(Pukul 14.00 wib-15.30 wib di Lapangan Voli KORAMIL Padangpanjang)

Pembukaan Sarasehan
Oleh Wakil Walikota Padangpanjang (Ir. H.Edwin, Sp)
(Pukul 16.00 wib-16.15 wib di Gedung M. Syafe’i Padangpanjang)

Sarasehan Teater bersama Halim HD (Kritikus Teater, Networker Kebudayaan) dan Yusrizal KW (Kritikus Teater, Sastrawan, Budayawan)
(Pukul 16.15 wib-18.00 wib di Gedung M. Syafe’i Padangpanjang)

PENUTUP



PANITIA
PANGGUNG PUBLIK SUMATERA 2012





Baca Selengkapnya...

MALIN PASAL PENGHABISAN, MALIN KUNDANG JILID KEDUA

Catatan Singkat Proses Kreatif Teater Wadtera SMP 1 Mojoagung dalam rangka Pekan Seni Pelajar Jatim 2011



Oleh: Bambang Irawan

Antara Wewe Gombel dan Malin
Setelah sengaja terlibat secara langsung dalam dua proses kreatif terakhir teater Wadtera SMP 1 Mojoagung, yaitu proses drama Wewe Gombel dan proses Malin Pasal Penghabisan, penulis menemukan sesuatu yang menarik untuk diungkap. Yaitu, kedua drama tersebut memiliki beberapa persamaan, baik secara kontekstual atau persamaan nasib. Berbicara mengenani nasib, Wewe Gombel dipilih menjadi penampil terbaik atau dalam bahasa halus Dewan Kesenian Jombang, kelompok penerima dana hibah dalam hajatan Hibah Teater Kompetitif 2010. Sedangkan Malin Pasal Penghabisan berhak menyandang predikat 5 penyaji terbaik non ranking dan 5 sutradara terbaik non ranking (M.S. Nugroho) Lomba Teater tingkat SMP/MTs Pekan Seni Pelajar Jawa Timur 2011 di Probolinggo 22 Juni yang lalu.

Kesamaan selanjutnya, keduanya mengusung tema yang sama, tentang eksistensi seorang ibu, walau dalam perspektif yang berbeda. Ibu (mama) dalam Wewe Gombel lebih condong kepada penggambaran ibu yang zalim kepada anaknya (Bella). Sebaliknya, Malin Pasal Penghabisan memberikan porsi terzalimi untuk seorang ibu (Bundo). Walau pada akhirnya dia pun ikut-ikutan terseret untuk zalim kepada putranya sendiri, Malin Kundang, dengan mengutuknya menjadi batu. Terlepas dari hal zalim menzalimi, sadar atau tidak hal-hal semacam itulah yang sekarang sedang terjadi menjadi peristiwa sosial di sekitar kita. Ibu menelantarkan anak-anaknya, peristiwa penolakan pada kehadiran sang anak, yang sampai pada perbuatan kriminal. Pula sebaliknya, anak-anak yang memilih untuk meniadakan rasa bakti kepada orang tua mereka atau menelantarkannya balik.

Atau barangkali karena naskah drama ini ditulis oleh orang yang sama, M.S. Nugroho yang notabene adalah seorang bapak. Yang secara otomatis dengan naluri kebapakannya (tapi sebenarnya saya lebih condong ke diksi naluri keibuan) menuangkan segala ketakutan psikologisnya secara mendalam sebagai orang tua dalam bentuk karya drama. Sehingga dengan sisi psikologi yang mengena, dua naskah drama ini mendapatkan juara 3 (Wewe Gombel) dan nominator (Malin The End Scene) pada lomba penulisan naskah drama remaja Dewan Kesenian Jawa Timur 2008. Jadi persamaan terakhirnya adalah, teater Wadtera memilih dua naskah drama yang telah teruji dan kredibel dalam dua proses terakhirnya.

Pemilihan naskah yang berat
Seorang bijak pernah berkata bahwa sangat sulit menjelaskan bagaimana rasanya asin kepada orang yang belum pernah merasakan asin. Atau kita ambil salah satu contoh pada konteks dunia penulisan saat ini, rumitnya menjelaskan tentang isu plagiarisme cerpen Dodolitdodolitdodolibret karya Seno Gumira Ajidarma dan Tiga Pendeta-nya Tolstoy kepada anak TK yang belum mengenal sastra. Gambaran Itulah yang dihadapi M.S. Nugroho sebagai sutradara.

Merunut apa yang disampaikan dewan juri, Harwi Mardiyanto, Rusdi Zaky dan Darmanto Rajab, ketika evaluasi sesaat sebelum pengumuman pemenang. Ketiga juri mempunyai pendapat yang hampir seragam tentang pemilihan naskah. Harwi menyatakan ketidak nyamanannya kepada pemaksaan naskah-naskah atau tokoh-tokoh dewasa untuk pelajar SMP. Rusdi Zaky berpendapat proses adaptasi naskah harus dengan pola pikir yang bisa dipakai untuk para pelajar, karena pada dasarnya drama itu menyenangkan dan mencerahkan. Dan Darmanto Rajab lebih ekstrim lagi, “Drama itu tidak harus menderita, menderita bagi pelakonnya atau bagi penontonnya.”

Di sinilah kapabilitas seorang sutradara dipertaruhkan, bagaimana cara memamah sesuatu yang keras menjadi lunak, untuk diberikan dan lantas dicerna aktor-aktornya. Perjuangan yang sangat berat untuk menanamkan karakter dengan psikologi yang complicated, karakter seorang bundo kepada pelajar SMP, yang ternyata empat kali lipat dari usia sebenarnya.

Pledoi seorang bundo
Sebelum menyaksikan repertoar ini, atau sekedar membaca naskah dramanya, tentu orang akan membayangkan atau mengingat kembali tentang cerita si anak durhaka Malin Kundang. Atau jangan-jangan orang akan malas membacanya atau emoh untuk memasang mata menyaksikan pertunjukan, lantas ngeluyur pergi. Semata karena cerita rakyat ini sudah begitu klise di masyarakat, karena sebagian orang beranggapan, sangat tidak menarik melakukan atau menikmati sesuatu pada hal-hal yang predictable atau mudah diduga. Walaupun sebenarnya  naskah/pertunjukan ini menawarkan sesuatu yang unpredictable.

Malin kundang adalah cerita rakyat asal Sumatera Barat, berkisah tentang seorang anak yang durhaka kepada ibunya, dan karena kedurhakaannya tersebut, ia dikutuk menjadi batu oleh ibunya sendiri. Cerita serupa atau hampir mirip juga dapat ditemukan di negara lain. Di Brunei Darussalam ada cerita Nakhoda Manis. Di Malaysia terdapat Si Tenggang. Bahkan yang terakhir ini pernah diterbitkan oleh Balai Pustaka tahun 1975, dengan judul Nakoda Tenggang : sebuah legenda dari Malaysia / oleh A. Damhoeri. Akan tetapi dari semua cerita tersebut lebih mengekspos tokoh Malin dengan jalan hidupnya. Bagaimana bila fokus penceritaan diseret dari tokoh Malin ke tokoh Bundo?

Dengan label “Revitalisasi cerita Rakyat Sumatera Barat”, penulis naskah mencoba melakukan hal tersebut di atas. Memulai cerita dengan kesedihan dan rasa sepi seorang bundo, karena telah kehilangan anak semata wayangnya, menjadi batu. Kesepian yang mendalam sampai pada akhirnya membawa bundo dalam dunia imaginer yang menyakitkan.

Tokoh bundo membuat pembelaan bahwa pengutukan adalah bukan kehendaknya, melainkan hanya faktor ketidak sengajaan, dan betapa bundo menyesali perbuatannya.

“...Bundo memang bersalah. Bundo memang telah mengutuk kau. Badan ini memang tak layak sebagai seorang Bundo. Bundo memang pantas mati untuk menebus kesalahan bundo...”(adegan 2)

“(Bundo menangis sendiri) Kutuk apa,  dosa apa. Mengapa langit tidak mengubahku menjadi batu saja?  Menjadi batu lebih punya makna daripada kesedihan seorang bundo.   (Mengutuk diri sendiri) Batulah aku. Batulah aku. Batulah aku! (Sepi) Mengapa langit tak menjawab? Mengapa aku tak menjadi batu?...” (adegan 7)

Keberanian sang penulis naskah dalam mendobrak cerita konvensional dan kepiawaian sang sutradara dalam memvisualisasikannya di panggung pertunjukan adalah hal yang perlu diapresiasi secara bijak. Menawarkan bentuk baru yang secara otomatis memberikan khasanah berbeda pada perkembangan cerita rakyat nusantara. Apalagi dalam pemanggungannya, sutradara memilih bentuk pertunjukan randai, sebuah seni pertunjukkan rakyat dari Sumatera Barat. Teater rakyat yang berangkat dari pengembangan sile atau silat.

Dengan kata lain Malin Pasal Penghabisan, mempunyai posisi sebagai sekuel dari cerita sebelumnya, yang ini menurut pandangan bebas saya. Bukan mustahil apabila dikemudian hari akan muncul sekuel atau bahkan prekuelnya, mungkin. Atau setelah ini akan bermunculan naskah-naskah baru revitalisasi cerita rakyat nusantara yang lain? Cerita rakyat Jombang misalnya?

_________

Penulis:

Bambang Irawan, Pelaku teater dan penikmat seni, sekarang aktif di Kelompok Alief Mojoagung, Jombang
Baca Selengkapnya...

Teater, Alternatif Penyembuhan Penyakit Alzheimer

CHICAGO - Banyak pasien Alzheimer yang baru terdiagnosis setelah memasuki fase stres. Mereka menyadari bahwa sudah kehilangan ingatan, sementara itu mereka tahu bahwa jika sudah seperti itu, maka tidak akan lagi dapat merawat diri sendiri.

Tim peneliti dari Chicago, melakukan pengujian ide baru melalui permainan teater tanpa naskah yang dapat mempengaruhi kesehatan pasien Alzhimer.

"Improvisasi adalah segala sesuatu mengenai sebuah momen, bagi seseorang dengan kehilangan memori merupakan tempat yang sangat aman," kata Mary O'Hara, seorang pekerja sosial di Neurology Kognitif dan Pusat Penyakit Alzheimer di Northwestern University Feinberg School of Medicine.

"Mungkin mengingat tentang masa lalu membuat orang agak cemas atau bahkan sedikit sedih karena mereka mengalami kegagalan. Namun dengan berpikir tentang masa depan terlalu banyak juga dapat merangsang kecemasan. Jadi berada di momen ini adalah hal yang aman dan tempat yang baik untuk mereka," jelas O'Hara, seperti dikutip npr, Senin (15/8/2011).

Para peneliti yang bekerja di Northwestern memenangkan Tony Award dari perusahaan teater Lookingglass. Sudah ada program teater yang menggunakan improvisasi untuk pasien Alzheimer pada tahap akhir dari penyakitnya, tetapi ini merupakan kolaborasi unik karena ini bisa menjadi tahap awal dalam penyembuhan pasien.

"Tidak dibutuhkan pengalaman untuk melakukannya, ada naskah dan mereka tidak perlu menghafalnya," cetusnya.

Hara juga menambahkan bahwa mereka melakukannya untuk mengembangkan potensi kreatif mereka. Dan mereka sangat sukses melakukan hal itu.

Salah satu penggagas improvisasi menjadi sempurna jika melakukan kerjasama dengan orang pengidap demensia. Jadi sesuatu yang penting disini ialah apa pun jawaban seseorang datang ke sini, kita semua akan melakukan pekerjaan itu," ungkap Christine Maria Dunford, pimpinan kelompok pemain pemula dari Lookingglass.

Peneliti tidak berharap permainan seperti ini berguna untuk menghentikan atau memperlambat perkembangan penyakit Alzheimer, tetapi mereka sedang menyelidiki apakah melibatkan kemampuan kreatif, merupakan tahap awal dalam proses penyembuhan pasien.

Sebelum dan setelah program yang berjalan selama delapan minggu, peserta dan keluarga mereka dimintai serangkaian pertanyaan, guna memeriksa dan melihat bagaimana perubahan serta apa saja jawaban mereka.

"Kami meminta orang untuk memberitahu kami bagaimana perasaan mereka tentang kesehatan fisik mereka dan suasana hati mereka," kata Darby Morhardt, profesor asosiasi penelitian di Northwestern.

"Ketika kami berpikir tentang orang-orang pengidap Alzheimer dan demensia, kami berpikir tentang orang-orang yang kehilangan keterampilan setiap hari. Tapi di sini, mereka juga belajar beberapa hal baru," simpul Dunford.

Hal ini dapat memberikan mereka rasa percaya diri bahwa mereka mampu untuk mencapai hal ini. Karena kesempatan mereka untuk berhasil melakukan sesuata dalam kondisi mengidap Alzheimer tidaklah banyak.

Sumber:http://techno.okezone.com/read/2011/08/15/56/492298/bermain-teater-alternatif-penyembuhan-alzheimer
Baca Selengkapnya...
PicPanda.com
powered by Blogger | WordPress by Newwpthemes | Converted by BloggerTheme