Catatan Kecil Menonton Putri Embun dan Pangeran Bintang (Bag.2)

(Pertunjukan Bengkel Mime Theatre, di Gedung Societed Taman Budaya Yogyakarta, 29-30 Mei 2010)
Oleh: Afrizal Harun

Imaji-imaji yang Liar: Sutradara telah membunuh Ekspresi para Aktornya
            Mengamati pertunjukan ‘Putri Embun dan pangeran Bintang’ ini dari awal sampai akhir, saya melihat ada satu yang terlupakan dari proses ini yaitu pentingnya membangun peristiwa dramatik. Sebagai kelompok yang berangkat pada basis pantomim, Bengkel Mime Theatre selalu hadir dengan kemampuan dan kecerdasan para aktornya dalam mengolah peristiwa melalui akting (ekspresi, gestur) yang komikal, satir, parodi, lentur dan lucu. Dari beberapa rekaman video pertunjukan yang saya amati, memang kemampuan para aktor Bengkel Mime Theatre merupakan faktor utama dan dominan dalam menyikapi setiap cerita yang diperankan. Hampir setiap suasana sedih, senang, gembira, putus asa, tangis, tawa dan kecewa diolah sedemikian rupa menjadi perpaduan yang utuh (unity), kompleks dan intens.
Namun, dalam pentas ‘Putri Embun dan pangeran Bintang’ kali ini, saya tidak melihat keunggulan itu hadir dan muncul di atas panggung. Semua bergerak secara sendiri-sendiri, sehingga hampir keseluruhan adegan yang dibangun kehilangan nilai motivasinya. Interaksi pemain hanyalah sebuah gambaran yang lewat begitu saja, pergi kemudian bertemu lagi dan begitu seterusnya. Pangeran Bintang, Puteri Embun dan Gadis Bulan dan pemain bertubuh wajan, panci, bunga, besi dan lain-lain tidak mampu mengangkat peristiwa dramatik secara baik, terkesan masih menoton dan datar (flat). Barangkali saja karena keterbatasan proses latihan sehingga para pemain terlihat begitu masih direpotkan oleh properti dan kostum yang digunakan.
Begitu dominan dan liarnya imaji-imaji sutradara dalam penggarapan artistik seperti setting, properti, pencahayaan (panggung dan properti) dan kostum.  Sehingga saya mencermati bahwa sutradara tidak begitu fokus pada pengolahan akting pemain dan memperkuat struktur dramatik cerita. Wajar tidak terlihat peristiwa mana yang harus ditonjolakan (emphasis) dalam cerita ‘Putri Embun dan pangeran Bintang’ ini, apakah Pangeran Bintang, Puteri Embun, Pemuda Wajan, Mat panci, Gadis Bulan atau pemuda desa bernama Fredy.
Senada dengan hal di atas, beberapa komentar dari penonton sehabis pertunjukan juga memandang hal yang sama mengenai pertunjukan ini berkaitan tentang dominannya unsur artistik sehingga mematikan peranan aktor di atas panggung, kurangnya fokus penceritaan, pemain sangat direpotkan oleh properti yang digunakan dan akhir cerita yang tidak kuat sehingga tidak menemukan esensi sebenarnya yang ingin disampaikan sutradara dalam pertunjukan ini.

Ilustrasi Musik yang Mengganggu
Musik jelas merupakan faktor pendukung dalam membantu dan mempertegas suasana adegan dalam pertunjukan. Musik secara internal bisa saja muncul melalui pemain dalam menyikapi sett dan properti di atas panggung. Secara eksternal musik dapat dihadirkan secara langsung (live) maupun musik digital (komputerisasi). Pertunjukan ‘Putri Embun dan pangeran Bintang’ hampir secara keseluruhan menggunakan musik digital. Setiap ilustrasi yang muncul dari musik digital seyogianya dapat membantu, memperkuat dan mempertegas suasana dramatik pertunjukan. Namun. Justru kehadirannya malah mengganggu setiap suasana adegan yang tengah dibangun. Musik yang ditata oleh Ari Wulu cenderung bergerak secara sendiri-sendiri, banyak pengulangan-pengulangan dan tidak menyatu dengan aktor di atas panggung sehingga melemahkan peranan aktor dalam mewujudkan dramatik cerita.
Alangkah baiknya pertunjukan ini tidak menggunakan musik digital seperti itu, tetapi menghadirkan beberapa peralatan alat seperti Piano, Biola, Cello, Xylophone, Timpani, dan lain-lain layaknya mini orkestra dengan beberapa orang pemain musik mengetengahkan ilustrasi dan efek bunyi yang sesuai dengan kebutuhan cerita. Hadirnya bentuk musik non-digital ini diharapkan antara aktor, setting, properti, pencahayaan, akan terlihat penyatuan-penyatuan adegan yang begitu kuat dan saling mengisi antara satu dengan yang lain. Namun, pertunjukan malam itu telah memberikan refleksi yang besar bagi kita sebagi penonton, berangkat dari sebuah imaji yang begitu sederhana namun telah melahirkan sebuah proses yang sungguh luar biasa. Salut untuk Bengkel Mime Theatre. Salam Teater*


Solo, 31 Mei 2010

Penulis adalah Pemerhati Seni dan budaya
Khususnya Teater

No Response to "Catatan Kecil Menonton Putri Embun dan Pangeran Bintang (Bag.2)"

Posting Komentar

Silakan meninggalkan komentar anda. Mohon tidak meninggalkan pesan yang mengandung unsur SARA dan pornografi.Trimakasih

Admin KoranTeater

PicPanda.com
powered by Blogger | WordPress by Newwpthemes | Converted by BloggerTheme