Oleh: Husin
Hari kelima, Kamis (24/01), kembali tampil dua pertunjukan. Penampilan pertama sore, pukul 16.00 WIB diisi oleh Komunitas Gabi UNSRI dari Sumatera Selatan yang menampilkan lakon karya mereka sendiri, ditulis oleh Muhammd Yunus salah seorang senior di teater Gabi yang berjudul “Wajah” dan disutradarai oleh Supriyanto. Pada pukul 20.00 WIB masuk pada penampilan kedua dari ISI Yogyakarta yang menampilkan karya kelompok penyutradraan kontemporer berjudul “Topeng Kayu” ini menghadirkan tokoh-tokoh dengan latar belakang yang jauh berbeda namun memiliki permasalahan yang sama tentang hidup. Kehidupan serta pola-pola penyikapan yang menimbulkan gesekan di antara mereka. Akting karikatural dan komikal menjadi pilihan pada pertunjukan dari ISI Yogyakarta kali ini.
“Zona X” Komunitas Hitam Putih dari Padangpanjang memberikan apresiasi baru bagi peserta, hal ini diakuai oleh beberapa peserta setelah menonton pertunjukan. Pertunjukan yang dipentaskan pada hari kelima, Jum’at (25/01), 20.00 WIB ini menata gedung auditorium Boestanoel Adam menjadi panggung arena dan menggunakan bentuk eksplorasi sebagai konsep pemanggungan. Naskah eksplorasi ini menggambarkan tentang perang yang multi interpretasi yang ditulis oleh Afrizal Harun. Ia membagi struktur menjadi tiga bagian. Bagian pertama, manusia mengalami kemonotonan hidup; kedua, manusia mengalami kebisingan hidup; dan yang ketiga, manusia dihadapkan dengan chaos.
Kemonotonan hidup divisualkan oleh aktor dengan gerakan-gerakan yang sangat pelan dan imajiner, perbedaan gerakan terlihat pada aktivitas mereka masing-masing. Ada yang menarik, mengangkat, memikul, dan mendorong. Pada sisi lain wanita satu (Citra) menggunakan gerakan ulu ambek yang telah dikembangkan, ia seolah-olah sedang meninabobokan seorang bayi dan wanita dua (Sarah) berada pada level yang lebih tinggi, melakukan aktivitas menjahit. Di bagian kedua, kebisingan divisualkan melalui aktivitas tiga orang tokoh laki-laki (Sandro, Anggi, Doni) sedang menempa besi, dua orang laki-laki lagi (Hasan, Hendratno) seolah berkelahi di atas tikar bambu yang mengeluarkan suara hentakan, wanita satu sedang memukul lesung dengan alu seolah handak memecahkan padi, dan wanita dua terus mencuci kain, sesekali kain itu dihempaskannya ke lantai.
Chaos, pada bagian ketiga memang benar-benar bagian yang sangat mengacaukan. Di bagian ini para tokoh melakukan moshing sambil terus mengikuti irama musik hip metal yang dimainkan melalui musik editing, sambil bergoyang mengikuti irama gambar-gambar perperangan dari screen. LCD ditembakkan ke arah tubuh penonton, sehingga gambar itu juga menyentuh bagian tubuh penonton.
Sabtu, (26/07) pertunjukan diisi oleh UKM UPI (Sumatera Barat) dan UKM UIB (Batam), UPI menampilkan pertunjukan berjudul “Sembahyang Rerumputan” yang diambil dari potongan puisi Hamid Jabar dan Ahmad Yosi Herfanda yang disutradarai oleh Rissa Hanny, sedangkan UKM UIB menampilkan karya berjudul “The Hero” karya dan sutradara Eko Prayetno yang memilih out door sebagai konsep pertunjukan. Di hari terakhir, Minggu (27/01) diisi oleh Teater Topeng Lentur dari Sumatera Selatan dengan lakon berjudul “Introgasi Rahim” Karya Ical Wrisabae sebagai penutup. Karya ini berbicara tentang seorang anak haram yang tidak diingini kelahirannya, anak itu dipasung sampai ia beranjak dewasa, pada akhirnya ibu itupun memmbunuh anaknya.
Dari setiap pertunjukan yang ditampilkan selama sepekan, kita dapat melihat keragaman bentuk pertunjukan yang coba ditawarkan. Ada dua hal yang dapat dilihat dari tema PAT III ini. Pertama, kesenian asli dari teater tradisional yang kita miliki, ternyata masih tetap eksis keberadaannya. Kedua, pengembangan dan kemajuan dari teater itu sendiri. Dari setiap peserta yang mengikuti, akhirnya kita dapat memetakan keberadaan teater di Sumatera.
Hari kelima, Kamis (24/01), kembali tampil dua pertunjukan. Penampilan pertama sore, pukul 16.00 WIB diisi oleh Komunitas Gabi UNSRI dari Sumatera Selatan yang menampilkan lakon karya mereka sendiri, ditulis oleh Muhammd Yunus salah seorang senior di teater Gabi yang berjudul “Wajah” dan disutradarai oleh Supriyanto. Pada pukul 20.00 WIB masuk pada penampilan kedua dari ISI Yogyakarta yang menampilkan karya kelompok penyutradraan kontemporer berjudul “Topeng Kayu” ini menghadirkan tokoh-tokoh dengan latar belakang yang jauh berbeda namun memiliki permasalahan yang sama tentang hidup. Kehidupan serta pola-pola penyikapan yang menimbulkan gesekan di antara mereka. Akting karikatural dan komikal menjadi pilihan pada pertunjukan dari ISI Yogyakarta kali ini.
“Zona X” Komunitas Hitam Putih dari Padangpanjang memberikan apresiasi baru bagi peserta, hal ini diakuai oleh beberapa peserta setelah menonton pertunjukan. Pertunjukan yang dipentaskan pada hari kelima, Jum’at (25/01), 20.00 WIB ini menata gedung auditorium Boestanoel Adam menjadi panggung arena dan menggunakan bentuk eksplorasi sebagai konsep pemanggungan. Naskah eksplorasi ini menggambarkan tentang perang yang multi interpretasi yang ditulis oleh Afrizal Harun. Ia membagi struktur menjadi tiga bagian. Bagian pertama, manusia mengalami kemonotonan hidup; kedua, manusia mengalami kebisingan hidup; dan yang ketiga, manusia dihadapkan dengan chaos.
Kemonotonan hidup divisualkan oleh aktor dengan gerakan-gerakan yang sangat pelan dan imajiner, perbedaan gerakan terlihat pada aktivitas mereka masing-masing. Ada yang menarik, mengangkat, memikul, dan mendorong. Pada sisi lain wanita satu (Citra) menggunakan gerakan ulu ambek yang telah dikembangkan, ia seolah-olah sedang meninabobokan seorang bayi dan wanita dua (Sarah) berada pada level yang lebih tinggi, melakukan aktivitas menjahit. Di bagian kedua, kebisingan divisualkan melalui aktivitas tiga orang tokoh laki-laki (Sandro, Anggi, Doni) sedang menempa besi, dua orang laki-laki lagi (Hasan, Hendratno) seolah berkelahi di atas tikar bambu yang mengeluarkan suara hentakan, wanita satu sedang memukul lesung dengan alu seolah handak memecahkan padi, dan wanita dua terus mencuci kain, sesekali kain itu dihempaskannya ke lantai.
Chaos, pada bagian ketiga memang benar-benar bagian yang sangat mengacaukan. Di bagian ini para tokoh melakukan moshing sambil terus mengikuti irama musik hip metal yang dimainkan melalui musik editing, sambil bergoyang mengikuti irama gambar-gambar perperangan dari screen. LCD ditembakkan ke arah tubuh penonton, sehingga gambar itu juga menyentuh bagian tubuh penonton.
Sabtu, (26/07) pertunjukan diisi oleh UKM UPI (Sumatera Barat) dan UKM UIB (Batam), UPI menampilkan pertunjukan berjudul “Sembahyang Rerumputan” yang diambil dari potongan puisi Hamid Jabar dan Ahmad Yosi Herfanda yang disutradarai oleh Rissa Hanny, sedangkan UKM UIB menampilkan karya berjudul “The Hero” karya dan sutradara Eko Prayetno yang memilih out door sebagai konsep pertunjukan. Di hari terakhir, Minggu (27/01) diisi oleh Teater Topeng Lentur dari Sumatera Selatan dengan lakon berjudul “Introgasi Rahim” Karya Ical Wrisabae sebagai penutup. Karya ini berbicara tentang seorang anak haram yang tidak diingini kelahirannya, anak itu dipasung sampai ia beranjak dewasa, pada akhirnya ibu itupun memmbunuh anaknya.
Dari setiap pertunjukan yang ditampilkan selama sepekan, kita dapat melihat keragaman bentuk pertunjukan yang coba ditawarkan. Ada dua hal yang dapat dilihat dari tema PAT III ini. Pertama, kesenian asli dari teater tradisional yang kita miliki, ternyata masih tetap eksis keberadaannya. Kedua, pengembangan dan kemajuan dari teater itu sendiri. Dari setiap peserta yang mengikuti, akhirnya kita dapat memetakan keberadaan teater di Sumatera.








No Response to "Pemetaan Teater di Sumatera (catatan yang terlupa dari PAT III) - Bagian 2"
Posting Komentar
Silakan meninggalkan komentar anda. Mohon tidak meninggalkan pesan yang mengandung unsur SARA dan pornografi.Trimakasih
Admin KoranTeater