Pemetaan Teater di Sumatera (catatan yang terlupa dari PAT III) - Bagian 1

Oleh: Husin

Pekan Apresiasi Teater III (PAT III) yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Jurusan Teater (HMJ-T), Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Padangpanjang, pada tanggal 20-27 Januari 2008, merupakan kelanjutan dari PAT II. PAT kali ini mengusung tema “Melihat Teater Indonesia dari Sumatera”. Maksudnya adalah, mencoba untuk melakukan pemetaan terhadap perkembangan teater di Sumatera yang merupakan salah satu bagian dari teater nusantara baik secara kreatifitas teater maupun wacana tentang teater.
Kegiatan PAT III, selain menghadirkan apresiasi pertunjukan teater, materi kegiatan ini juga memberikan program seminar teater dan workshop pemeranan. Di samping itu juga diisi dengan pasar seni yang menampilkan parade band antar pelajar dan umum. Hal ini merupakan suatu rangkaian upaya dalam mewujudkan tujuan penting pengembangan wawasan dalam kontek manajemen teater, perkembangan teater, budaya teater, pendidikan teater, dan pertunjukan teater itu sendiri.
Peserta PAT lebih didominasi oleh kelompok-kelompok teater yang ada di Sumatera, baik itu kelompok teater Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) maupun independen. Kelompok-kelompok teater itu antara lain: UKM LKK UNIMED (Sumatera Utara), Teater Seru UIB (Batam), Komunitas Seni Intro (Sumatera Barat), Komunitas Seni Hitam Putih (Sumatera Barat), Teater Khatulistiwa UPI (Sumatera Barat), HMJ Teater STSI Padangpanjang (Sumatera Barat), Teater Art In Revolt/Air (Jambi), Teater Oranye (Jambi), Teater Topeng Lentur (Sumatera Selatan), UKM Seni UNSRI (Sumatera Selatan), Perkumpulan Seni Melayu Warisan Budaya (Bangka Belitung) dan HMJ Teater ISI Yogyakarta (satu-satunya kelompok dari Jawa).
Pemakalah pada kegiatan seminar terdiri dari; Arthur S. Nalan “Peran Pendidikan Jurusan Teater dalam Kontribusi Teater Indonesia” (Bandung), Sari Madjid “Management dan Networking” (Jakarta), Muhammad Husyairi “Interkulturalisme dan Transformasi Teater Mutakhir Sumatera” (Jambi) dan Sahrul N. “Membaca Teater Sumatera (Melayu) dalam Fenomena Cross Culture” (Sumatera Barat). Kegiatan workshop pemeranan diberikan oleh Dindon WS.
Hari pertama, Minggu (20/01), setelah pembukaan di dalam gedung pertunjukan (GP) Hoerijah Adam, peserta diajak keluar untuk menyaksikan sebuah pertunjukan Performent Art yang dimainkan oleh Komunitas Lorong dari Padangpanjang salah satu simpatisan pada kegiatan PAT III. Mereka mengusung tema tentang bencana alam yang semakin hari semakin menunjukkan kepunahan bumi.
Pada malam harinya di GP Hoerijah Adam diisi oleh HMJ Teater STSI Padangpanjang yang menyajikan pertunjukan berjudul Ophelia dalam Lantera. Pertunjukan berbentuk eksplorasi ini didekonstruksi oleh Sutradara Cut Rosa dari naskah besar Wiliam Shakespeare yang berjudul Hamlet dan naskah Heiner Muller yang berjudul “Hamlet Maschine” (Mesin Hamlet). Namun pada karya Cut Rosa, tokoh Ophelia lebih ditonjolkan. Ophelia yang menyimbolkan kemarahan, cinta dan darah. Sedangkan Hamlet hanya sebagai bayangan dari kemarahannya.
Penampilan di hari kedua, Senin (21/01), yaitu Komunitas Oranye dari Jambi dan LKK UNIMED dari Sumatera Utara di tempat yang berbeda. Penampilan pertama pada pukul 20.00 WIB di Gedung Auditorium Boestanul Arifin, Komunitas Oranye menampilkan bentuk teater tradisional Melayu (Abdul Muluk), dengan judul “Demam” yang distrdarai sekaligus pemain oleh Muhammad Husyairi, pertunjukan ini bercerita tentang seorang suami yang memiliki dua orang istri yang sama pemarahnya. Pertunjukan kedua Komunitas LKK UNIMED yang menampilkan lakon berjudul “Bui” karya Indra YT di gedung pertunjukan Hoerijah Adam. “Bui” yang disutradrai oleh Apriani Kartini.
Pada hari ketiga, Selasa (22/01), tampil Komunitas Perkumpulan Seni Melayu Warisan Budaya dari Bangka Belitung pada pukul 16.00 WIB. di gedung pertunjukan Hoerijah Adam. Komunitas ini menghadirkan bentuk teater tradisional melayu (Abdul Muluk) berjudul “Timot Kesambet”. Yang menarik adalah pertunjukan kedua oleh Komunitas Intro dari Sumatera Barat. Komunitas ini menyajikan sebuah drama realis berjudul “The Loundre” (Pencucian) karya David Guerdon yang disutradarai oleh R. Della Nasution. Lakon ini bercerita tentang sebuah keluarga yang memiliki seorang anak cacat fisik yang disembunyikan di atas atap rumah, karena keluarga tidak sanggap menahan malu. Justru menjadi berkah yang tak terduga ketika manager sirkus mengangkatnya menjadi pemain sirkus dengan bayaran mahal. Komunitas ini memainkan lakon dengan sangat baik sekali, terutama didukung oleh kemampuan para aktornya.
Hari keempat, Rabu (23/01), hanya menyuguhkan satu grup teater Air dari jambi dengan lakon berjudul “DOM” karya Bambang Widoyo SP yang disutradarai oleh EM Yogiswara. Lakon ini mengisahkan tentang sebuah tempat pemukiman kumuh yang di dalamnya mengalami persoalan hidup yang sangat menyakitkan, penggusuran, perampokan, perjudian, perselinggukuhan dan pembunuhan menjadi persoalan keseharian yang telah dicampur aduk dalam dilema kehidupan mereka. Kondisi ini senantiasa terjadi pada setiap insan manusia.

No Response to "Pemetaan Teater di Sumatera (catatan yang terlupa dari PAT III) - Bagian 1"

Posting Komentar

Silakan meninggalkan komentar anda. Mohon tidak meninggalkan pesan yang mengandung unsur SARA dan pornografi.Trimakasih

Admin KoranTeater

PicPanda.com
powered by Blogger | WordPress by Newwpthemes | Converted by BloggerTheme