15 Januari 2009 | Padangpanjang (pituluik.com) - Selasa, tepatnya 11 November 2008 lalu, Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Padang Panjang kedatangan tamu dari Labor Teater Syahid Jakarta. Selain untuk menampilkan pertunjukan teater, kedatangan rombongan ini juga bertujuan untuk lebih meningkatkan jalinan silahturahmi dengan keluarga besar segenap civitas akademika STSI Padang Panjang, khususnya jurusan teater.
Tema “Kubangan” yang dipilih sang sutradara, sempat membuat para mahasiswa kebingungan dalam memaknai penggalan kata itu sendiri. Karena jika dilihat pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kubangan berarti lumpur atau genangan air kotor.
Kang Bambang, begitu sapaan akrab sang sutradara mengutarakan alasannya mengambil tema kubangan. Menurutnya, naskah kubangan berangkat dari catatan kecil dan puisi yang ditulis sang sutradara pasca reformasi. Melihat kondisi umum dari proses reformasi, ternyata menurut penglihatan Bambang, proses tersebut mengalami stagnasi dan reformasi. Bahkan proses yang dilewatinyapun bisa dikatakan hanya sebatas euphoria.
“Kata-kata kubangan begitu melekat dibenak saya dan lansung saya uraikan kedalam puisi. Situasi ini akan dialami oleh seluruh kalangan masyarakat layaknya ketika berada di dalam lumpur,” ujar pemilik nama lengkap Bambang Prihadi ini.
Saat ditanyai seputar persiapan-persiapan yang dilakukan menjelang pertunjukan, sang sutradara menjawab dengan yakin bahwa usaha untuk mengkondisikan tempat dengan berbagai macam properti yang ada, sudah sangat maksimal. “Pertunjukan yang berulang kali dipentaskan namun dengan tema dan konsep yang berbeda, sangat memerlukan latihan yang matang, karena musuh terbesarnya adalah mekanis,” pungkas Kang Bambang.
Usai gelaran pertunjukan, forum diskusi-pun dibuka. Pandu Birowo S.Sn, Dosen jurusan teater STSI Padangpanjag, mengkritik habis-habisan seputar pertunjukan “Kubangan” malam itu. Dalam pandangannya, Pandu mengkritik banyaknya material-material yang mengganggu pementasan. Dari hal ini sebut Pandu, imbasnya hanya memunculkan aktor yang bersifat individual/ personal, serta banyaknya sisi-sisi keaktoran yang dirugikan.
“Dialog-dialog yang dikeluarkan oleh pemain justru membuat para penonton menjadi bingung, karena terjadi perebutan ucapan,” kritiknya.
Tidak hanya Pandu, berbagai kritik dan komentar yang terkesan sedikit menghantam hasil pementasan ini, tak menjadikan wajah sang sutradara “masam”. Hal ini juga selaras dengan pernyataan kang Bambang, yang menyatakan kagum dan apresiasi terhadap antusias penonton yang menyaksikan pertunjukan karyanya tersebut.(ayie)
Tema “Kubangan” yang dipilih sang sutradara, sempat membuat para mahasiswa kebingungan dalam memaknai penggalan kata itu sendiri. Karena jika dilihat pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kubangan berarti lumpur atau genangan air kotor.
Kang Bambang, begitu sapaan akrab sang sutradara mengutarakan alasannya mengambil tema kubangan. Menurutnya, naskah kubangan berangkat dari catatan kecil dan puisi yang ditulis sang sutradara pasca reformasi. Melihat kondisi umum dari proses reformasi, ternyata menurut penglihatan Bambang, proses tersebut mengalami stagnasi dan reformasi. Bahkan proses yang dilewatinyapun bisa dikatakan hanya sebatas euphoria.
“Kata-kata kubangan begitu melekat dibenak saya dan lansung saya uraikan kedalam puisi. Situasi ini akan dialami oleh seluruh kalangan masyarakat layaknya ketika berada di dalam lumpur,” ujar pemilik nama lengkap Bambang Prihadi ini.
Saat ditanyai seputar persiapan-persiapan yang dilakukan menjelang pertunjukan, sang sutradara menjawab dengan yakin bahwa usaha untuk mengkondisikan tempat dengan berbagai macam properti yang ada, sudah sangat maksimal. “Pertunjukan yang berulang kali dipentaskan namun dengan tema dan konsep yang berbeda, sangat memerlukan latihan yang matang, karena musuh terbesarnya adalah mekanis,” pungkas Kang Bambang.
Usai gelaran pertunjukan, forum diskusi-pun dibuka. Pandu Birowo S.Sn, Dosen jurusan teater STSI Padangpanjag, mengkritik habis-habisan seputar pertunjukan “Kubangan” malam itu. Dalam pandangannya, Pandu mengkritik banyaknya material-material yang mengganggu pementasan. Dari hal ini sebut Pandu, imbasnya hanya memunculkan aktor yang bersifat individual/ personal, serta banyaknya sisi-sisi keaktoran yang dirugikan.
“Dialog-dialog yang dikeluarkan oleh pemain justru membuat para penonton menjadi bingung, karena terjadi perebutan ucapan,” kritiknya.
Tidak hanya Pandu, berbagai kritik dan komentar yang terkesan sedikit menghantam hasil pementasan ini, tak menjadikan wajah sang sutradara “masam”. Hal ini juga selaras dengan pernyataan kang Bambang, yang menyatakan kagum dan apresiasi terhadap antusias penonton yang menyaksikan pertunjukan karyanya tersebut.(ayie)








No Response to "Teater Syahid Mentas di STSI Padangpanjang"
Posting Komentar
Silakan meninggalkan komentar anda. Mohon tidak meninggalkan pesan yang mengandung unsur SARA dan pornografi.Trimakasih
Admin KoranTeater