Oleh : Agus Setiyanto
Sebagai Sutradara
Dalam hal penyutradaraan, secara teoretis, seorang sutradara harus memiliki modal pengalaman, pengetahuan, berbakat pemimpin atau guru, kemampuan meyakinkan para aktor, serta pengetahuan psikologi. Demikian menurut catatan Kalam Hamidi, yang juga seorang aktor, penulis naskah, dan sekaligus sutradara drama dan teater (Kalam Hamidi, 2003: 40). Apa yang menjadi catatan tersebut, itu sudah dilakukan oleh seorang Bung Karno ketika menjadi sutradara dalam pementasan sandiwara Monte Carlo.
Sebagai sutradara, Bung Karno yang punya waktu luang banyak tentu saja akan melakukan pekerjaannya dengan serius. Dengan kata lain, Bung Karno jelas memberikan latihan – gemblengan terhadap para pemainnya. Dan tentu saja, sebelumnya Bung Karno telah melakukan seleksi para pemainnya untuk menentukan peran yang dengan tokohnya. Selanjutnya Bung Karno menyiapkan jadwal dan tempat latihannya, gladi resik, hingga persiapan pementasannya. Bung Karno membutuhkan waktu latihan dua hingga tiga mingguan untuk melatih para pemainnya.
Bung Karno sangat teliti dalam urusan yang kecil-kecil, termasuk memeriksa kenyamanan dan keamanan lantai panggung yang akan digunakan oleh para pemain – seperti memeriksa kalau ada paku-paku yang membahayakan. Kesuksesan pertunjukan Monte Carlo ternyata tidak hanya berimbas pada kesejahteran bagi para pemainnya saja, tetapi juga berimbas pada yang lainnya. Karena sebagian dari hasil pertunjukannya ternyata diamalkan untuk kepentingan sosial.
Sebagai pemimpin sandiwara, Bung Karno menyadari, bahwa musik memegang peranan yang sangat penting. Tanpa illustrasi musik, pertunjukan seni jenis apapun takkan pernah berhasil – sukses. Oleh karenanya, dalam hal penataan musik, Bung Karno mempercayakan penuh kepada Manaf Sofiano yang memang piawai dalam memainkan alat musik piano maupun saxofon. Bahkan diantara para pemain Monte Carlo yang dianggap terbaik oleh Bung Karno adalah Manaf Sofiano. Dan Bung Karno dengan jujur telah memujinya sebagai seorang primadonna (Cindy Adams, 1966:206).
Pada acara pertunjukan, Bung Karno tidak menempatkan diri dibelakang layar, seperti halnya yang biasa dilakukan oleh para sutradara pada pertunjukan sandiwara Kethoprak maupun Ludrug. Bung Karno justru duduk di kursi barisan depan sejajar dengan para pembesar Belanda, elite pribumi, pengusaha – saudagar - orang-orang Tionghoa yang biasanya mengambil karcis loge de luxe (tempat duduk VIP).
Produser Yang Melampaui Zamannya
Kepiawaian Bung Karno sebagai produser – pimpinan sandiwara Monte Carlo boleh dibilang cukup mengagumkan – dan tentu saja membutuhkan pekerjaan yang rumit. Mulai dari merancang - menulis naskah - mencari pemain - menyeleksi pemain - membagi peran - merancang tonil - menyiapkan kain - melukis layar – menyiapkan properti - menyiapkan spanduk – penyebaran pamlet – percetakan - menyiapkan promosi dengan kendaraan keliling - menyiapkan tempat pentas - menyiapkan dana produksi – menyiapkan tiket – karcis - mengundang penonton - membuat jadual latihan - gladi resik hingga jadual pementasan, dan lain-lain – semua berada dibawah tanggungjawab dan pengawasan Bung Karno.
Bu Inggit juga melakukan pekerjaan yang sama ketika di Endeh, yaitu sebagai penata rias. Bung Karno memilih Hanafi dan M. Zahari Thanie, serta Sjoufi, untuk memeran tokoh perempuan. Belakangan nama Hanafi ditambah namanya menjadi A.M. Hanafi – A.M kepanjangan dari Anak Marhen. Setelah Bung Karno menjadi Presiden RI, A.M. Hanafi pun diangkat sebagai Duta Besar untuk Kuba (A.M. Hanafi, 1996: 22).
Bung Karno menyiapkan pamflet yang promosinya sangat memikat para pembacanya. Isi pamfletnya selain mengundang rasa penasaran, juga memberikan informasi menarik serta menyertakan harga karcis – tiket tanda masuk. Pada sore hari menjelang pertunjukannya, Bung Karno mengadakan programa keliling, yaitu mengarak para pemain yang akan tampil nanti malam - berkeliling kota dengan menyewa mobil. Disamping, menyewa mobil untuk mengarak para pemain, Bung Karno juga menyewa gedung tempat pertunjukannya, yaitu gedung bioskop Royal Cinema dengan cara mengangsur (menyicil).
Sayang, hingga kini belum ada pelaku seni maupun produser yang berminat mengadaptasi lakon-lakon yang pernah dipentaskan Bung Karno. Jangan-jangan, memang belum ada yang tahu?
Sebagai Sutradara
Dalam hal penyutradaraan, secara teoretis, seorang sutradara harus memiliki modal pengalaman, pengetahuan, berbakat pemimpin atau guru, kemampuan meyakinkan para aktor, serta pengetahuan psikologi. Demikian menurut catatan Kalam Hamidi, yang juga seorang aktor, penulis naskah, dan sekaligus sutradara drama dan teater (Kalam Hamidi, 2003: 40). Apa yang menjadi catatan tersebut, itu sudah dilakukan oleh seorang Bung Karno ketika menjadi sutradara dalam pementasan sandiwara Monte Carlo.
Sebagai sutradara, Bung Karno yang punya waktu luang banyak tentu saja akan melakukan pekerjaannya dengan serius. Dengan kata lain, Bung Karno jelas memberikan latihan – gemblengan terhadap para pemainnya. Dan tentu saja, sebelumnya Bung Karno telah melakukan seleksi para pemainnya untuk menentukan peran yang dengan tokohnya. Selanjutnya Bung Karno menyiapkan jadwal dan tempat latihannya, gladi resik, hingga persiapan pementasannya. Bung Karno membutuhkan waktu latihan dua hingga tiga mingguan untuk melatih para pemainnya.
Bung Karno sangat teliti dalam urusan yang kecil-kecil, termasuk memeriksa kenyamanan dan keamanan lantai panggung yang akan digunakan oleh para pemain – seperti memeriksa kalau ada paku-paku yang membahayakan. Kesuksesan pertunjukan Monte Carlo ternyata tidak hanya berimbas pada kesejahteran bagi para pemainnya saja, tetapi juga berimbas pada yang lainnya. Karena sebagian dari hasil pertunjukannya ternyata diamalkan untuk kepentingan sosial.
Sebagai pemimpin sandiwara, Bung Karno menyadari, bahwa musik memegang peranan yang sangat penting. Tanpa illustrasi musik, pertunjukan seni jenis apapun takkan pernah berhasil – sukses. Oleh karenanya, dalam hal penataan musik, Bung Karno mempercayakan penuh kepada Manaf Sofiano yang memang piawai dalam memainkan alat musik piano maupun saxofon. Bahkan diantara para pemain Monte Carlo yang dianggap terbaik oleh Bung Karno adalah Manaf Sofiano. Dan Bung Karno dengan jujur telah memujinya sebagai seorang primadonna (Cindy Adams, 1966:206).
Pada acara pertunjukan, Bung Karno tidak menempatkan diri dibelakang layar, seperti halnya yang biasa dilakukan oleh para sutradara pada pertunjukan sandiwara Kethoprak maupun Ludrug. Bung Karno justru duduk di kursi barisan depan sejajar dengan para pembesar Belanda, elite pribumi, pengusaha – saudagar - orang-orang Tionghoa yang biasanya mengambil karcis loge de luxe (tempat duduk VIP).
Produser Yang Melampaui Zamannya
Kepiawaian Bung Karno sebagai produser – pimpinan sandiwara Monte Carlo boleh dibilang cukup mengagumkan – dan tentu saja membutuhkan pekerjaan yang rumit. Mulai dari merancang - menulis naskah - mencari pemain - menyeleksi pemain - membagi peran - merancang tonil - menyiapkan kain - melukis layar – menyiapkan properti - menyiapkan spanduk – penyebaran pamlet – percetakan - menyiapkan promosi dengan kendaraan keliling - menyiapkan tempat pentas - menyiapkan dana produksi – menyiapkan tiket – karcis - mengundang penonton - membuat jadual latihan - gladi resik hingga jadual pementasan, dan lain-lain – semua berada dibawah tanggungjawab dan pengawasan Bung Karno.
Bu Inggit juga melakukan pekerjaan yang sama ketika di Endeh, yaitu sebagai penata rias. Bung Karno memilih Hanafi dan M. Zahari Thanie, serta Sjoufi, untuk memeran tokoh perempuan. Belakangan nama Hanafi ditambah namanya menjadi A.M. Hanafi – A.M kepanjangan dari Anak Marhen. Setelah Bung Karno menjadi Presiden RI, A.M. Hanafi pun diangkat sebagai Duta Besar untuk Kuba (A.M. Hanafi, 1996: 22).
Bung Karno menyiapkan pamflet yang promosinya sangat memikat para pembacanya. Isi pamfletnya selain mengundang rasa penasaran, juga memberikan informasi menarik serta menyertakan harga karcis – tiket tanda masuk. Pada sore hari menjelang pertunjukannya, Bung Karno mengadakan programa keliling, yaitu mengarak para pemain yang akan tampil nanti malam - berkeliling kota dengan menyewa mobil. Disamping, menyewa mobil untuk mengarak para pemain, Bung Karno juga menyewa gedung tempat pertunjukannya, yaitu gedung bioskop Royal Cinema dengan cara mengangsur (menyicil).
Sayang, hingga kini belum ada pelaku seni maupun produser yang berminat mengadaptasi lakon-lakon yang pernah dipentaskan Bung Karno. Jangan-jangan, memang belum ada yang tahu?








No Response to "Penyutradaraan Bung Karno (Bag. 2)"
Posting Komentar
Silakan meninggalkan komentar anda. Mohon tidak meninggalkan pesan yang mengandung unsur SARA dan pornografi.Trimakasih
Admin KoranTeater