Senin, 13 April 2009 | BENGKULU, KOMPAS.COM
Penggiat seni khususnya sastra di Bengkulu dinilai kurang produktif dan masih kalah dibanding daerah tetangga seperti Lampung dan Pekanbaru.
"Memang seni sastra di Bengkulu sangat sedikit penggiatnya dan juga kurang produktif dibanding teman-teman kita yang ada di komunitas sastra di Lampung dan daerah lainnya," kata Penyair Bengkulu Choirul Muslim usai menjadi pembicara dalam agenda Peluncuran Antologi Puisi dan Bedah Puisi, karya Jimmy Maruli Alfian, penyair asal Lampung yang berdomisili di Bengkulu, Sabtu.
Meski demikian menurut Choirul yang juga staf pengajar di Fakultas MIPA jurusan Biologi Universitas Bengkulu ini, perkembangan sastra masih memiliki potensi dengan munculnya sejumlah komunitas seni.
"Masih ada Kedai Proses yang menjadi penyelenggara agenda peluncuran puisi Jimmy, ada Teater Andung, Sampan Kayu dan Bahtera di komunitas kampus,"katanya.
Selain itu sejumlah komunitas lain seperti Teater Halte, Teater Petak Rumbia dan komunitas lainnya menurut Choirul juga memungkinkan untuk memunculkan seniman dan karya sastra.
"Seperti Jimmy Maruli sendiri yang awalnya bergabung dengan seni teater ternyata bisa berkarya di bidang sastra, bahkan dalam beberapa karyanya dia membawa latar belakangnya di dunia teater yang diwarnai dengan naskah dialog,"katanya.
Sementara itu salah seorang penyair Bengkulu, Budi mengatakan apresiasi masyarakat Bengkulu terhadap dunia seni khususnya sastra masih rendah dan hal ini sangat mempengaruhi perkembangan dunia sastra itu sendiri.
"Seperti yang kita lihat, undangan yang hadir saat ini sangat sedikit dan ini bisa menggambarkan apresiasi masyarakat kita terhadap seni,"katanya.
Meski demikian kata Budi, seniman di Bengkulu tetap berusaha untuk berkarya dan sebaiknya ruang untuk mengapresiasikan karya tersebut agar diperluas.
"Acara-acara seperti ini harus diperbanyak dan bisa meningkatkan minat seniman sastra lainnya untuk terus produktif," katanya.
Penggiat seni khususnya sastra di Bengkulu dinilai kurang produktif dan masih kalah dibanding daerah tetangga seperti Lampung dan Pekanbaru.
"Memang seni sastra di Bengkulu sangat sedikit penggiatnya dan juga kurang produktif dibanding teman-teman kita yang ada di komunitas sastra di Lampung dan daerah lainnya," kata Penyair Bengkulu Choirul Muslim usai menjadi pembicara dalam agenda Peluncuran Antologi Puisi dan Bedah Puisi, karya Jimmy Maruli Alfian, penyair asal Lampung yang berdomisili di Bengkulu, Sabtu.
Meski demikian menurut Choirul yang juga staf pengajar di Fakultas MIPA jurusan Biologi Universitas Bengkulu ini, perkembangan sastra masih memiliki potensi dengan munculnya sejumlah komunitas seni.
"Masih ada Kedai Proses yang menjadi penyelenggara agenda peluncuran puisi Jimmy, ada Teater Andung, Sampan Kayu dan Bahtera di komunitas kampus,"katanya.
Selain itu sejumlah komunitas lain seperti Teater Halte, Teater Petak Rumbia dan komunitas lainnya menurut Choirul juga memungkinkan untuk memunculkan seniman dan karya sastra.
"Seperti Jimmy Maruli sendiri yang awalnya bergabung dengan seni teater ternyata bisa berkarya di bidang sastra, bahkan dalam beberapa karyanya dia membawa latar belakangnya di dunia teater yang diwarnai dengan naskah dialog,"katanya.
Sementara itu salah seorang penyair Bengkulu, Budi mengatakan apresiasi masyarakat Bengkulu terhadap dunia seni khususnya sastra masih rendah dan hal ini sangat mempengaruhi perkembangan dunia sastra itu sendiri.
"Seperti yang kita lihat, undangan yang hadir saat ini sangat sedikit dan ini bisa menggambarkan apresiasi masyarakat kita terhadap seni,"katanya.
Meski demikian kata Budi, seniman di Bengkulu tetap berusaha untuk berkarya dan sebaiknya ruang untuk mengapresiasikan karya tersebut agar diperluas.
"Acara-acara seperti ini harus diperbanyak dan bisa meningkatkan minat seniman sastra lainnya untuk terus produktif," katanya.








No Response to "Penggiat Sastra Bengkulu Dinilai Kurang Produktif"
Posting Komentar
Silakan meninggalkan komentar anda. Mohon tidak meninggalkan pesan yang mengandung unsur SARA dan pornografi.Trimakasih
Admin KoranTeater